.

.
Headlines News :
Home » » SEBUAH USAHA MENULIS PUISI

SEBUAH USAHA MENULIS PUISI

Written By Unknown on Rabu, 09 Mei 2018 | Mei 09, 2018




SEBUAH USAHA MENULIS PUISI, SEBUAH USAHA MEMBACA DIRI

Sering kali saya ditanya apa itu puisi. Jika merujuk teori-teori sastra dan buku-buku yang mengulas tentang sastra, terutama puisi, maka akan diperoleh banyak sekali definisi yang berbeda-beda. Namun, saya punya jawaban sendiri jika ditanyakan hal itu, yakni bahwa puisi adalah kehidupan itu sendiri. Artinya, secara teori bahasa, puisi sudah didefnisikan sedemikian rupa sebagai sebuah karya sastra yang menggabungkan kata-kata pilihan sebagai representasi dari makna yang ingin disampaikan penyair, sehingga bentuk puisi relatif lebih pendek daripada jenis karya sastra yang lain. Akan tetapi, agar definisi itu tidak lantas menekankan hanya sebatas menggabungkan kata-kata yang “seolah diindah-indahkan” sementara secara substantif belum mengena, maka jawaban saya itu adalah sebuah usaha pertahanan. Puisi tidak semata diartikan sebagai sederetan kata, lebih dari itu, puisi adalah usaha seorang penyair membaca realita (internal maupun eksternal), kemudian meresapinya, menuliskannya, mengendapkannya, barulah memunculkannya sebagai sebentuk karya.
Hal itu muncul dari keprihatinan saya, ketika seseorang yang baru belajar menulis puisi disibukkan dengan usaha mencari kata-kata indah yang kelak akan dituliskan menjadi puisi. Bukan, bukan itu yang penting dalam sebuah usahamenuispuisi.Adalah proses pemaknaanhidupdankehidupan yang paling pentingdalam proses kreatifmenulispuisi. Ada kerjalain yang lebihutamaketimbangsekadarmenginvertarir kata sebagai modal berpuisi. Seorangpenyairharusbisamembacadiri, membacalingkungan, membacapemikiran orang lain, membaca fenomena yang terjadi di sekitar dirinya, baik sebagai mikrokosmos maupun makrokosmos.
Tentu, proses itu butuh waktu panjang. Butuh proses. Pun saya tidak akan menyalahkan jika ada penulis baru melakukan hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas. Itu bukan kesalahan. Hanya sebuah usaha sia-sia, jika nanti mempunyai banyak perbendaharaan kata, namun tidak punya konsep makna yang jelas. Maka celakanya, puisi yang ditulis hanya seolah kumpulan kata indah, namun tak mempunyai pemaknaan yang kuat.
Proses itu akan berhasil manakala dilakukan secara konsisten. Dalam buku puisi ini, saya menangkap hal itu. Para penyair masih berkutat dengan penggabungan kata-kata indah, metafora yang asing, yang unik, yang menarik dibaca, namun sayangnya mereka belum menyentuh sisi batin pembacanya. Padahal menurut saya, puisi yang bagus adalah puisi yang ketika kita membacanya, dada kita berdesir, batin kita bergetar, dan ingin berulang-ulang membacanya. Dan yang tak kalah penting adalah bagaimana agar kisah dalam sebuah puisi tidak hanya dimaknai sebagai “aku-penyair” tapi “aku-publik”. Untuk yang pertama, berarti apa yang dialami atau dikisahkan di dalam puisi hanya bersifat privasi, seolah pembaca tidak bisa masuk ke dalam puisi. Berbeda dengan yang kedua, keakuan tidak semata dimiliki si penyair, tetapi juga pembaca. Coba kita tengok puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono, pernyataan cinta tidak semata dirasakan Sapardi saja, melainkan juga pembaca. Semua yang membaca puisi itu bisa masuk ke dalam deretan kata-kata dalam puisi sapardi. Artinya puisi sudah membukakan diri untuk dimasuki semua orang.
Namun begitu, saya sangat apresiasi sekali terhadap buku ini. Puisi-puisi di dalamnya sudah cukup segar, hampir tidak saya temukan repetisi stagnan dari masing-masingpenyair. Sebuah kesalahan struktural yang acap dilakukan penyairbaru, sebagaimana saya dulu sering melakukannya. Di sini, tampak keseriusan dari para penyair di buku ini. Kata-kata yang dipilih sudah bagus, hanya saja gaya pengucapan yang monoton dan cenderung begitu-begitu saja. Mungkin karena bacaan yang belum begitu banyak. Padahal sebagai galib diketahui, membaca adalah pokok dari kegiatan menulis. Tanpa mencatat atau menginventarisir kata menjadi semacam kamus pun, sebagaimana disampaikan Freud, melalui membaca, kata-kata masuk ke alam bawah sadar dengan sendirinya. Saat seseorang menulis, kata-kata berloncatan dari kepalanya, sehingga kegiatan menulisnya mengalir dan lancar. Mengutip pendapat J Hillis Miller dalam On Literatur (2011: 118) membaca, seperti jatuh cinta, suatu tindakan pasif. Membaca memerlukan banyak energi mental, emosional, dan bahkan fisik. Membaca memerlukan suatu usaha positif. Seseorang harus mengerahkan segala pancainderanya untuk menciptakan kembali dunia khayal dalam karya tersebut seutuh dan sejelas mungkin  di dalam diri seseorang.
Saya sangat bangga, dari Cilacap muncul anak-anak muda progresif yang menamakan diri sebagai Komunitas Sastra ”Rumah Penyu'’ Sebagaimana disampaikan Eka Budianta dalam Sastra Kota (2003; 44) komunitas sastra berfungsi sebagai arena berlatih atau ”persemaian” tumbuhnya bakat-bakat baru. Tetapi fungsi pertama adanya kelompok atau komunitas ini juga sebagai panggung publikasi. Saya berharap Rumah Penyu mampu menjadi rumah sebagai tempat proses kreatif dan publikasi karya para penghuninya. Pun, sebagai upaya pencarian eksitensi diri melalui kegiatan yang kreatif-produktif-progresif dalam wujud bersastra. Saya yakin, Rumah Penyu akan melahirkan penyair-penyair kompeten, masa depan sastra Indonesia.
Melalui buku ini Komunitas Rumah Penyu membuktikan diri bahwa sebaik-baik perwujudan eksistensi adalah dengan berkarya. Buku ini adalah saksi dari proses yang mereka lakukan. Meski secara isi, buku ini masih terkesan privatif-subjektif penyair-penyairnya, sebagai wujud membaca diri. Semoga ke depan para penyair ini mampu menghasilkan karya yang lebih dahsyat dan lebih bersuara, karena sebagaimana yang disampaikan Wolfgang Iser “Literature Not Only Activates The Imagination, But Also Invigorates Perception”.
                                    Purwokerto, Januari 2018.

Dimas Indiana Senja
(Pembina Komunitas Rumah Penyu)
Share this post :

Posting Komentar